Teamwork Errors in Trauma Resuscitation
ALEKSANDRA SARCEVIC,Drexel University
IVAN MARSIC,Rutgers University
RANDAL S. BURD,Children’s National Medical Center
10.1145/2240156.2240161
http://doi.acm.org/10.1145/2240156.2240161
Human errors in
trauma resuscitation can have cascading effects leading to poor patient
outcomes. To determine the nature of teamwork errors, we conducted an
observational study in a trauma center over a two-year period. While eventually
successful in treating the patients, trauma teams had problems tracking and
integrating information in a longitudinal trajectory, which resulted in
inefficiencies and near-miss errors. As an initial step in system design to
support trauma teams, we proposed a model of teamwork and a novel classification
of team errors. Four types of team errors emerged from our analysis:
communication errors, vigilance errors,
interpretation errors, and management errors. Based on these findings, we
identified key information structures to support team cognition and decision
making. We believe that displaying these information structures will support
distributed cognition of trauma teams. Our findings have broader applicability
to other collaborative and dynamic work settings that are prone to human error.
Lani Ulung Imuno Putri
Artikel ini memberikan pemahaman empiris terhadap team errors dalam situasi kritis dan keselamatan
kritis dari trauma bay.
Alat-alat trauma bay meliputi monitor
penanda yang penting dan sensor lainnya, yang hanya menyediakan data tentang
status pasien. Tidak ada
komputer yang merekam aktivitas bekerja dan mengawasi kesalahan. Kesalahan
dicegah melalui pengalaman, pelatihan, dan proses evaluasi yang sering
dilakukan. Pembuatan keputusan dilakukan berdasarkan pengetahuan dan dugaan,
sehingga anggota tim harus mengingat layar monitor dan data yang telah
diobservasi. Komputer tidak mendukung pengambilan keputusan.
Analisis human error dalam
mengelola pekerjaan
yang kompleks dapat mengarah pada pengetahuan
penting dalam workspace design. Hal
ini relevan dengan safety-critical, sistem sociotechnical yang sangat dinamis, stres
dan waktu yang terbatas, dan di mana
kegagalan dapat mengakibatkan
bencana sosial, konsekuensi ekonomi atau lingkungan (misalnya,
nuklir pembangkit listrik atau cockpits
pesawat).
Trauma
resuscitation
merupakan resiko tertinggi dalam dunia medis yang telah mendapat sedikit kajian
dari segi human work. Tujuan dari Trauma resuscitation adalah
dengan cepat mengidentifikasi dan mengelola potensi bahaya yang mengancam jiwa.
Hal ini masih berpotensi human error
yang tinggi meskipun tim sudah mendapat pelatihan.
Menggunakan teknik etnografi dan keahlian utama, serta dipandu oleh model pikiran tim penulis, mengidentifikasikan empat jenis kesalahan unik
teamwork dalam domain trauma resuscitation: (1) Kesalahan komunikasi, karena
kehilangan informasi; (2) Kesalahan kewaspadaan, karena gagal untuk menahan dan mencegah kesalahan yang dilakukan oleh orang lain; (3) Kesalahan penafsiran, karena efek dari sporadis, ketidakterhubungan antar data yang dikumpulkan dan mode saat ini dari operasi memory
secara kolektif
pada penalaran diagnostik; dan 4) Kesalahan manajemen, karena pemimpin tim
kehilangan prosedur tahapan kemajuan. Semua kesalahan ini
mempengaruhi pengambilan keputusan. Selain mengidentifikasi kesalahan tim, juga
memberikan penjelasan mengenai penyebabnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran kunci
teknologi akan mengeksternalisasi informasi situasional untuk penyimpanan yang
handal dan mudah diakses. Dua struktur informasi yang
paling penting dalam trauma
teamwork yang perlu eksternalisasi meliputi: (1) bukti yang
dikumpulkan hingga saat ini; dan (2) langkah-langkah prosedur yang berhasil
diselesaikan hingga saat ini. Hasil dari penelitian dalam artikel ini dapat digunakan untuk menginformasikan desain
sistem komputer untuk mendukung kerja tim dalam berbagai situasi yang kritis.
Sebaiknya proses pengambilan keputusan melibatkan
komputer agar meminimalisir trauma resuscitation. Pada artikel ini dijelaskan untuk mempercepat proses
akuisisi informasi dengan menggunakan komputer untuk melakukan tiga pendekatan safety-critical berikut : (1) Menampilkan informasi tentang
situasi kritis; (2) Secara otomatis menginformasikan aksi subsequent; (3) Dapat mendiagnosis secara otomastis.











